Senin, 15 September 2008

Ironi di Sekitar Kita

Seringkali kita menyatakan permintaan atau pernyataan berikut ini kepada anak-anak didik kita. “Anak-anak, sampahnya dibuang di tempatnya ya.” Atau “kebersihan penting lho bagi kita”. Namun, apakah mereka telah dapat memahami tentang kebersihan, membuang sampah, dan turunannya? Sehingga mereka melakukannya “membuang sampah di tempatnya” dengan penuh kesadaran?

Kita tak bisa bohong, memang kebanyakan anak didik kita belum bisa melakukannya dengan baik. Setelah makan, mereka tidak membuang bungkusnya ke tempat sampah. Namun, kadang dilempar, kadang dibuat mainan, atau diletakkan di sembarang tempat. Ketika melihat sampah berserakan atau di depannya, apa respon dari anak didik kita? Sepertinya lebih banyak cuek. Yah, biarin aja nanti kan ada pak bon yang membersihkan. Atau nunggu diperintah pak guru ah. Mungkin begitulah yang ada dalam pikiran mereka. Namun, bisa jadi mereka belum faham sehingga belum tahu apa tindakan yang harus benar.

Manakah yang lebih pas dengan anak didik kita? Mari, kita telisik bersama. Kita merasa bahwa sudah sering kita memberikan nasehat kepada mereka. Malah kadang dimarahi dan dihukum. Bukan begitu? Namun, kok mereka tetap saja belum faham ya. Mereka tetap saja enggan membuang sampah di tempatnya. Mereka tidak memberi respon positif ketika melihat sampah di depannya. Kenapa bisa begitu ya?

One point! Itulah yang ingin saya ajak untuk ditelisik. Ada pepatah buah durian jatuh tidak jauh dari pohonnya. Maksudnya? Kita sebagai guru sangat mengharapkan anak didiknya mempunyai perilaku mampu menjaga kebersihan, kerapian dan keindahan atau yang lebih mudah dikenal dengan sebutan K3. Kemudian, kita mengambil langkah diantaranya meminta, merayu, mengajak atau malah bahkan memerintah dan mengancam kepada anak didik kita. Untuk apa? Untuk bisa membuang sampah di tempatnya. Untuk menjaga kerapian dan keindahan. Untuk ini untuk itu. Tapi, apakah kita sebagai “yang mengajari” sudah melakukannya?

Terkadang kita cuek saja ketika melihat ruang kantor/guru yang “acak-acakan”, kertas-kertas terlihat berserakan, atau ruang kelas yang tampak tak sedap dipandang mata. Pun kalau membuang sampah, ya tidak pada tempatnya. Mungkin, kita hanya menyuruh anak didik kita yang membersihkannya. Atau meminta “mas bon”. Kita hanya sekedar menyuruh dan melihat dengan santai. Seolah-olah pihak yang wajib menjaga kebersihan adalah siswa atau penjaga kebersihan. Tak terbesit sedikitpun dalam diri kita, bagaimana seandainya kita yang melakukannya. Memang, tidak semua begitu…

Yah wajar saja, ketika anak didik kita tak jauh dari apa yang kita contohkan. Mereka enggan membuang sampah pada tempatnya. Mereka tidak begitu memahami manfaat atau hakekat menjaga kebersihan. Mereka sekedar takut ketika gurunya menyuruh atau malah memarahi. Tanpa kesadaran yang mencukupi. Anak didik sangat “dipengaruhi” oleh sikap dan perilaku gurunya. Bagi mereka, guru adalah segalanya. Guru digugu dan ditiru. Begitulah, guru mempunyai daya hipnotis tinggi terhadap anak didiknya.

Ironi bukan? Kebersihan dan kerapian serta keindahan, marilah kita bisa jalankan bersama. Ini tanggung jawab kita bersama. Bukankah kita akan senang dan nyaman ketika melihat lingkungan kita bersih dan asri? Mari, kita mulai dari yang terkecil. Di dalam kamar, rumah atau lingkungan sekitar kita. Dan mulai sekarang!

Tidak ada komentar: