Nak,
Ceriamu membuat bapak kan terus merindu
Tuk terus bersua dan bersenda gurau
Gelak tawa penuh keriangan dalam episode belajar
Sungguh membuat hati ini bahagia
Nak,
Bapak masih ingat
Senandung kelas kita
“1C datang dengan wajah yang riang
1C datang semua jadi senang
Riang, senang, semua jadi senang”
Nak,
Seandainya bapak punya daya lebih
Seandainya bapak punya kekuatan
Seandainya bapak tak harus memilih
Kita bisa merengkuh asa bersama
Di sekolah penuh makna nan tercinta
Membuat bait-bait sejarah membanggakan
Nak,
Bapak harus memilih
Semoga kita kan tetap terjalin
Dalam ikatan hati-hati kecil
Walau tak lagi bertatap muka
Walau tak lagi belajar bersama
Walau tak lagi bercanda bersama
Nak,
Bapak harus memilih
Jalan ini…
Nak,
Selamat berjumpa lagi
Semoga engkau kan mendapatkan yang terbaik
Tidak bersama bapak
Bersama para pejuang pendidikan sejati
Tidak seperti bapak
Bersama keriangan, kebahagiaan, kemaknaan
Tuk khidmatkan diri pada Allah semata……….
Nak,
Maafkan bapakmu ini yang belum bisa memberikan
Apa saja yang ingin engkau rasakan
Apa saja yang ingin engkau tahu
AH-33, jelang ku berpisah dengan mereka
(puisiku kala meninggalkan sekolahku tercinta bersama kenangan tak terlupakan)
Selasa, 16 September 2008
Tragedi 15 September 2008
Tragedi kemanusiaan terjadi di medio Ramadhan tahun ini. Di belahan timur bumi Jawa. Tepatnya di kota Pasuruan Jawa Timur. 21 warga (semuanya adalah wanita) meninggal dunia dalam “jihad” menerima uang zakat dari pengusaha burung wallet. Ribuan warga mengantre dalam keadaan berdesak-desakan untuk mendapatkan uang sebesar Rp 30.000. 16 warga lainnya terluka. Mereka mengantre sejak pukul 06.00.
Kenyataan yang membuat hati kita kan teriris, sedih. Di tengah hikmatnya Ramadhan. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Tentunya, kita tak bisa “menyalahkan” warga. Mereka sedang berjuang untuk mendapatkan uang guna menyambung hak hidupnya. Mereka rela datang di pagi hari, dari tempat yang tidak dekat, kemudian berdesak-desakan dalam kerumunan ribuan warga lainnya. Mereka sangat mengharapkan mendapatkan uang zakat tersebut. Cukup besar memang buat mereka. Di tengah himpitan kebutuhan ekonomi yang kian membengkak. Kalau kita lihat videonya, sungguh membuat hati kita kian trenyuh.
Pihak yang berwenang mengidentifikasi, bahwa penyebab insiden ini adalah warga kekurangan oksigen dan terinjak-injak oleh warga lainnya. Kemungkinan juga “kepanitiaan” tidak terlalu siap untuk mengantisipasi ribuan warga yang berdatangan. Pertolongan pertama pun, dianggap datang terlambat. Warga telah banyak yang jatuh, terinjak-injak, dan pingsan. Dan akhirnya, 21 warga meninggal dan 16 lainnya terluka. Dari korban meninggal, terdapat luka memar.
Kejadian di atas, seyogyanya tidak terjadi. Jikalau panitia dan segenap pihak yang terkait dapat dengan sigap mengkoordinir kegiatan. Toh kegiatan ini telah dilakukan sejak tahuan 1975an. Panitia sedianya dapat berkoordinasi dengan aparat terkait, karena akan melibatkan ribuan warga. Atau paling tidak, membuat skema pembagian uang zakat lebih sistematis.
Ya, mungkin panitia sudah melakukannya. Semua yang menentukan adalah Yang Di Atas. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kejadian yang sungguh memilukan ini. Semoga, tidak terjadi lagi. Di manapun dan kapanpun.
Kenyataan yang membuat hati kita kan teriris, sedih. Di tengah hikmatnya Ramadhan. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Tentunya, kita tak bisa “menyalahkan” warga. Mereka sedang berjuang untuk mendapatkan uang guna menyambung hak hidupnya. Mereka rela datang di pagi hari, dari tempat yang tidak dekat, kemudian berdesak-desakan dalam kerumunan ribuan warga lainnya. Mereka sangat mengharapkan mendapatkan uang zakat tersebut. Cukup besar memang buat mereka. Di tengah himpitan kebutuhan ekonomi yang kian membengkak. Kalau kita lihat videonya, sungguh membuat hati kita kian trenyuh.
Pihak yang berwenang mengidentifikasi, bahwa penyebab insiden ini adalah warga kekurangan oksigen dan terinjak-injak oleh warga lainnya. Kemungkinan juga “kepanitiaan” tidak terlalu siap untuk mengantisipasi ribuan warga yang berdatangan. Pertolongan pertama pun, dianggap datang terlambat. Warga telah banyak yang jatuh, terinjak-injak, dan pingsan. Dan akhirnya, 21 warga meninggal dan 16 lainnya terluka. Dari korban meninggal, terdapat luka memar.
Kejadian di atas, seyogyanya tidak terjadi. Jikalau panitia dan segenap pihak yang terkait dapat dengan sigap mengkoordinir kegiatan. Toh kegiatan ini telah dilakukan sejak tahuan 1975an. Panitia sedianya dapat berkoordinasi dengan aparat terkait, karena akan melibatkan ribuan warga. Atau paling tidak, membuat skema pembagian uang zakat lebih sistematis.
Ya, mungkin panitia sudah melakukannya. Semua yang menentukan adalah Yang Di Atas. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kejadian yang sungguh memilukan ini. Semoga, tidak terjadi lagi. Di manapun dan kapanpun.
Penganiayaan Akademik
Istilah di atas, saya pinjam dari Fauzil Adhim dalam mengapresiasi dunia pendidikan kita. Fauzil berujar bahwa proses pembelajaran di sekolah kebanyakan adalah proses pembelajaran yang hanya memperhatikan kemampuan kognitif terendah sebagai pembebanan. Dengan harapan dapat mengejar prestasi optimal. Namun, haruskah dengan cara demikian? Lebih lanjut engutarakan bahwa mengejar anjing membangkitkan energi ketika nyaris berhasil. Tetapi dikejar anjing sangat menguras tenaga dan membunuh antusiasme, justru ketika berhasil. Sekolah harus berfikir serius bagaimana memacu prestasi siswa tanpa melakukan penganiayaan akademik.
Sebagai insan yang berkecimpung dalam dunia sekolah, saya terhenyak dengan tulisan di atas. Apakah selama ini saya mengajar dan mentransfer materi kepada anak didik merupakan bentuk penganiayaan akademik? Jika ya, sungguh kesalahan besar telah saya lakukan. Namun, apa hakikat pendidikan? Pendidikan bukankah sebagai proses transfering ilmu pengetahuan dari sumber belajar “guru” kepada anak didik? Sepertinya tidak! Ini bukan pemahaman yang tepat dengan term pendidikan.
Pendidikan adalah dunia yang ingin mencetak manusia seutuhnya. Menjadi manusia yang berkemampuan tidak hanya kognitif, melainkan lebih dari itu. Manusia harus mampu mengoptimalkan segala potensinya. Baik nalar maupun emosinya. Pendidikan “dalam hal ini sekolah”, tidak boleh mencetak manusia yang pandai atau pintar secara akademis namun, tidak seimbang dengan emosinya. Pendidikan tidak boleh mencetak manusia egois yang tak bisa bersikap sosial yang baik.
Cita-cita mulia di atas, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Perhatian dan kepedulian dari segenap stakeholders sangat dibutuhkan. Menyerahkan segalanya ke sekolah bukanlah pilihan terbaik. Sekolah juga memerlukan “gelitikan” dari lingkungan sekitar, tidak hanya dari orang tua baik langsung mapun melalui komite sekolah.
Pertanyaannnya, dimana posisi kita sekarang ini? Dimanapun posisi kita, alangkah bijaknya jika akan, terus dan terus memberikan perhatian lebih kita pada dunia pendidikan di sekitar kita. Semampu kita.
Sebagai insan yang berkecimpung dalam dunia sekolah, saya terhenyak dengan tulisan di atas. Apakah selama ini saya mengajar dan mentransfer materi kepada anak didik merupakan bentuk penganiayaan akademik? Jika ya, sungguh kesalahan besar telah saya lakukan. Namun, apa hakikat pendidikan? Pendidikan bukankah sebagai proses transfering ilmu pengetahuan dari sumber belajar “guru” kepada anak didik? Sepertinya tidak! Ini bukan pemahaman yang tepat dengan term pendidikan.
Pendidikan adalah dunia yang ingin mencetak manusia seutuhnya. Menjadi manusia yang berkemampuan tidak hanya kognitif, melainkan lebih dari itu. Manusia harus mampu mengoptimalkan segala potensinya. Baik nalar maupun emosinya. Pendidikan “dalam hal ini sekolah”, tidak boleh mencetak manusia yang pandai atau pintar secara akademis namun, tidak seimbang dengan emosinya. Pendidikan tidak boleh mencetak manusia egois yang tak bisa bersikap sosial yang baik.
Cita-cita mulia di atas, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Perhatian dan kepedulian dari segenap stakeholders sangat dibutuhkan. Menyerahkan segalanya ke sekolah bukanlah pilihan terbaik. Sekolah juga memerlukan “gelitikan” dari lingkungan sekitar, tidak hanya dari orang tua baik langsung mapun melalui komite sekolah.
Pertanyaannnya, dimana posisi kita sekarang ini? Dimanapun posisi kita, alangkah bijaknya jika akan, terus dan terus memberikan perhatian lebih kita pada dunia pendidikan di sekitar kita. Semampu kita.
Langganan:
Postingan (Atom)