Jumat, 30 Agustus 2013

Let's Move On with 4 ON

Oleh Ahmad Nurkhin *)

Menjadi sosok yang disebut mahasiswa adalah anugerah, kebahagiaan, kebanggaan, dan juga euforia. Bagaimana tidak, mahasiswa adalah status yang memang sangat beda dengan kata "siswa". Banyak yang berpendapat mahasiswa adalah agent of change alias agen perubahan. Agen yang diharapkan membawa misi perubahan bagi masyarakat di masa mendatang.

Mahasiswa tidak hanya sekedar status. Ia adalah proses perubahan seorang siswa untuk bisa menjadi yang lebih bermakna. Baik untuk dirinya maupun bagi orang lain di sekitarnya. Namun demikian, menjadi mahasiswa yang "sukses" tak semudah mengucapkannya. Ia membutuhkan rentetan peristiwa untuk membentuk pribadi dan karakter.

Wow, sebegitukah sulit menjadi "mahasiswa"? Bagi mahasiswa baru, mungkin iya. Karena ia belum bisa merasakan perjalanan berlikunya. Ia baru memasuki masa euforia. Yang bisa jadi, malah akan menjadi bumerang bagi mereka, jikalau terlarut dalam masa itu. Mahasiswa baru harus segera move on. Supaya seperti kakak angkatan yang telah menggores sejarah kebanggan bagi kampus, orang tua, dan juga bangsa dan negara. Let's move on with 4 ON. sekali lagi 4 ON. Bukan OON.. hehe..

Apa itu 4 ON? Merujuk Jamil Azzaini, seorang trainer, motivator, guru yang tidak asing di Indonesia, 4 ON itu visiON, actiON, passiON, dan collaboratiON.

ON pertama adalah visiON. Yak, kita harus punya namanya visi, cita-cita, mimpi. Dan tentu bukan yang biasa-biasa saja. Okelah misalkan kita punya visi lulus tepat waktu 7 atau 8 semester. Pertanyaannya, bisakah lebih dari itu? Pahami apa yang kita punya dan bisa. Visi itu ada baiknya yang bisa kita ukur dan jelas indikatornya. Sehingga akan memudahkan untuk mengevaluasinya. Visi yang baik adalah yang akan berefek luas, tak hanya dirinya sendiri. Agar kita selalu termotivasi dengan visi, ada baiknya visi itu kita ketik di selembar kertas, dicetak tebal, dan dilaminating. Kemudian dipasang di tempat yang sering kita lihat.

Setelah kita berhasil menyusun visi yang ideal, langkah berikutnya adalah actiON, aksi atau langkah nyata. Tak kan terealisir semua mimpi kalau tak ada upaya nyata yang kita lakukan. Betul tidak? Lulus tepat waktu tak kan tercapai kalo kita kuliah hanya sekedar tidur-tiduran, melamun, atau malah facebookan dan twitteran saja. Atau hanya 3K (kelas, kantin, kamar). Kita bisa minta saran kakak kelas, dosen, orang tua bagaiamana agar bisa kuliah dengan baik. Langkah-langkag nyata apa yang harus kita susun dan akan kita lakukan.

Sulit juga ya? Tidak juga! Agar aksi perengkuhan visi bisa mantaps kita perlu ON ketiga dan keempat. PassiON dan collaboratiON. Yuk, kita harus enjoy, bergairah, dan semangat dalam aksi nyata kita. Kita tidak boleh lola dan leha-leha apalagi nglokro. Tetap optimis dan keep on spirit katanya. Bayangkan, kalo kita tidak menikmati dalam mengerjakan sesuatu. Hasilnya juga akan tidak bagus dan menyenangkan. Kita butuh passiON.

At least, ON yang terakhir; collaboratiON. Kolaborasi. Iya, kita butuh teman, rekan, sahabat, partner, atau apalah namanya. Kita tak mungkin mengejar mimpi hanya seorang diri. Sungguh, tak kan indah jika hanya ada satu warna. Kita bisa belajar dari laskar pelangi. Namun, kita tetap perlu memilih dan memilah teman. Teman yang baik adalah mereka yang mau dan mampu mengingatkan kita. Sehingga, secara bersama-sama bisa sukses. Lulus bersama. Instrumen yang bisa kita gunakan adalah aktif di lembaga kemahasiswaan. Di sana kita akan belajar banyak hal. Berkolaborasi, berorganisasi, memahami orang lain, berkorban, dan lainnya.

Saya ucapkan Selamat datang mahasiswa baru Universitas Negeri Semarang di kampus konservasi. Selamat dan sukses. Let's move on with 4 ON.

*) Pembelajar di Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes
@ahmadnurkhin; ahmadnurkhin@gmail.com

sumber:  http://pendidikanekonomi.unnes.ac.id/lets-move-on-with-4-on/

Kamis, 22 Agustus 2013

Aku Mohon Maaf

Ayah, aku mohon maaf
Atas salah dan khilafku selama ini

Aku tahu,
belum mampu kembangkan senyum mu

Aku tahu,
diri ini belum membuatmu bangga

Tapi aku yakin, kau tetap mempercayaiku..


Kelak, aku kan sepertimu ...

Ayah, selamat merayakan Idul Fitri
Semoga Allah menerima amalan kita. Amin.

Kamis, 18 Juli 2013

Belajar dari Para Pencari Tuhan

Ramadhan ini, Para Pencari Tuhan (PPT) memasuki episode yang ke tujuh, alias PPT 7. Sinetron religi yang tayang di SCTV tiap petang dan fajar itu telah menyapa penggemarnya selama enam tahun dan kini ada di angka 7. Tidak banyak sinetron yang hadir sampai dengan season ke  7. PPT hadir dan menghipnotis pecintanya untuk terus tak melewatkan alur ceritanya. Simple, tapi sebenarnya tidak. Mengandung nilai-nilai mendalam. Pilihan dialog yang berkelas dan berbobot. Dari setiap pemerannya. Demikian juga dengan guyonan khas nan segarnya. Dimana kalau dicermati, sungguh, kita akan mendapatkan hal yang luar biasa… Allah pun telah memerintahkan kepada hambaNya untuk memimikirkan sesuatu. Sepertinya, tak terkecuali sinetron sebagai buah dari karya seni.
Ada satu penggalan cerita dari sinetron Ramadhan yang diarsiteki oleh Deddy Mizwar, aktor kawakan yang flamboyan itu. Di Para Pencari Tuhan Jilid 3 (sekitar tahun 2009). Asrul dan Udin, memang bukan aktor utama. Tapi peran yang mereka jalankan menarik sekali untuk diungkap. Hingga kini, di jilid 7. Warga yang kepayahan dalam hidupnya, dalam mencukupi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Tapi mereka mempunyai keluhuran sikap dan persaudaraan. Di PPT 3 mereka berniat dengan kuat untuk menunaikan ibadah haji. Mission impossible. Mereka pun dengan segenap usaha dan pengorbanan serta kesabaran, terus dan terus mengejar asa. Apa yang mereka lakukan? Ibadah haji sangatlah membutuhkan keuangan yang besar. Untuk itulah, mereka menganggap bahwa menabung adalah jalan terbaik. Dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit, semoga akan jadi bukit. Hingga akhirnya, mereka mampu untuk mengunjungi ka’bah. Inilah yang lucu dan menggelitik. Mereka bukan membuka rekening tabungan yang tak mampu mereka lakukan.
Mereka tabungkan uangnya di dalam sebuah kotak yang dibentuk seperti ka’bah. Cara untuk meyakinkan dan memantapkan niatan. Sebagai pengaman, mereka tak menyimpan di dalam rumah mereka. Khawatir, kalau kan tersisih untuk makan sehari-hari.  Mereka “kubur” kotak “ka’bah” di dalam tanah. Di sebuah tempat yang dianggap aman. Perjuangan berat untuk mengisi kotak mereka. Uang yang disisihkan di antara untuk “makan” atau “haji”. Pilihan berat dan menyeka keringat. Niatan kuat menyelamatkan. Bersama-sama mereka masukkan tiap uang ke kotak impian itu dengan segera dan mantap. Takut, terkoreksi niatannya. Segera, mereka tutup kotak dan kubur. Hingga, sesuatu untuk sementara menggagalkannya. (di sini, ada cerita yang terpenggal. Karena pengamatanku terbatas pada waktu. Jam tayang yang tidak memungkinkan ku terus bersamanya. J).
Asrul dan udin, tetap menarik di PPT 7. Asrul yang berhasil berhaji dan kemudian menjadi orang kaya. Walaupun akhirnya menjadi orang miskin lagi. Namun, subhanallah, akhlaknya tetap sama. Yakin dan tabah atas kehendakNya. Sedangkan si Udin, kini diuji dengan menemukan uang puluhan juta. Uang yang sebenarnya milik pak Jalal yang dicuri orang. Sambungan cerita yang akan tetap dirindu.
Mira, istri Asrul juga punya peran yang luar biasa. Sebagai istri yang sholehah, mempunyai keyakinan kepada Allah dan begitu penyabar. Apapun yang terjadi pada keluarganya. Miskin, kaya, punya, tidak punya, aqidah tak tergadaikan. Allah Maha Penolong. Subhanallah. Loli??? Wah, peran yang membuat penonton gemes dan grrrr…. Pak Jalal? Bu Jalal? Atau pak RW? Peran-peran yang keren. Peran utamanya sebenarnya ada di pelawak Bajaj (Chelsea dkk), atau Aya, Kayla, Azzam, atau bang Jack ya. Ada pak Ustadz dan bu Ustadzah… and the others.
Belajar dari Para Pencari Tuhan. Belajar dari PPT, kenapa tidak? Mereka mengajarkan inovasi dan kreativitas. Sinetron religi yang hadir tiap ramadhan ini sungguh elegan dan sangat kontekstual. Memahami perkembangan dinamika sosial. Mengajarkan nilai-nilai agama dengan cara yang enak, nyaman, dan indah untuk dimengerti melalui realitas sosial dalam peran-peran dan alur ceritanya. Kekuatan persaudaraan antara Asrul dan Udin atau Chelsea dkk, mengajarkan betapa dinamis dan indahnya sebuah jalinan antar saudara, teman. Saling menasihati. Bercanda bersama. Sedih bersama. Pola kepemimpinan pak RW yang tidak layak untuk dicontoh. Pimpinan yang hanya mendahulukan kepentingan sendiri. Ketegasan pak Ustadz dan nasihatnya sungguh kita butuhkan untuk menghadapi permasalahan yang sedang dihadapi. Ahhh, masih banyak lagi. Tak kan bisa tergambar dalam tulisan ini.
Jika kita tarik ke kampus konservasi kita tercinta, semoga memberikan banyak hikmah dan pelajaran bagi dosen, karyawan, mahasiswa, pimpinan, atasan, bawahan, siapapun itu. Dengan peran masing-masing. Hingga, Unnes mampu menjadi kampus indah dan nyaman yang dinaungi berkah Allah swt. Yang bekerja, hanyalah untuk mencari berkah Allah. Yang belajar, juga hanya mengharap ridha Allah. Mereka saling bertaut hatinya. Bergandengan tangan untuk mencapai cita. Penuh optimisme dan kreasi futuristik. Walau berganti pimpinan, Unnes kan tetap membanggakan.
Terakhir, selamat menunaikan ibadah ramadhan 1434 H. Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Dan menjadikan kita sebagai golongan muttaqin. Amin ya rabbal ‘alamin.