Tampilkan postingan dengan label religiusitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religiusitas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2016

Doaku senja ini

Senja ini begitu syahdu
Sambut sang bulan baru
Syukur tiada aku jemu
Terpanjatkan hanya untuk Mu, wahai Rabb ku

Berjuta langkah telah aku lakukan
Tiada terhitung salah khilaf
Pagi teringat petang alpa
Dan taubatku tiada

Ya Allah, hamba pinta ampunan
Ya Allah, hamba mohon petunjuk
Hamba ingin menjadi lebih baik
Hamba sangat takut, tak mampu melakukannya...

Senin, 12 September 2016

IDUL ADLHA DAN KESALEHAN SOSIAL (sebuah naskah khutbah idul adha)

Oleh Ahmad Rofiq
الله أكبر 9 الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا  لا اله الا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد  الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى جَعَلَ الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنـًـا أَشْهَـدُ أَنْ لَا ِالَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ جَـعَـلَ حَجَّ اْلبَيْتِ مِنَ الشَّرِيْعَةِ رُكْنًا وَصَرَّفَ وُجُوْهَنَا اِلىَ قِبْلتَهِ فَكاَنَ مِنْ نِعْمَتِهِ اْلعُظْمَى وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ مَنْ طَافَ بِاْلبَيْتِ الْعَتِيْقِ ذَاكِرًا أَسْمَاءَ رَبِّهِ الْحُسْنَى اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَ شَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ اِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ أَمَّا بَعْـدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ  أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَهِيَ نِعْمَةُ العُدَّةِ لِيَوْمِ اْلمِيْعَــادِ قال الله تعالى في كتابه العزيز`

Kaum Muslimin Muslimat Jamaah Shalat Idul Adha yang dicintai Allah SWT !

Di hari yang penuh rahmat dan maghfirah dari Allah, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah menjadikan hari raya Idul Adha ini, sebagai hari untuk memposisikan kembali diri kita pada posisi yang sebenarnya, agar kita menjadi hamba Allah yang baik dan benar, sesuai tuntunan Al-Qur'an dan Rasulullah SAW.

Shalawat dan salam marilah senantiasa kita senandungkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as, para sahabat, tabiin, dan pengikutnya. Semoga di saat kita membutuhkan syafaat atau pertolongan, beliau berkenan menyiramkan kesejukan syafaat beliau, sehingga kita merasa nyaman di hari penentuan tersebut. Kita semua meyakini bahwa hidup kita di dunia ini, hanya ada satu tujuan, yakni beribadah atau mengabdi kepada Allah SWT, dan kita bisa menjalankan dengan baik, iman dan taqwa kita akan meningkat, dan inilah satu-satunya bekal kita menghadap Allah SWT.   

Saudara-saudaraku, para hamba Allah yang mulia!
Di saat kemarin 168.800-an saudara-saudara kita sedang menjalankan ibadah wuquf di Padang Arafah, hamparan padang tandus yang disulap dengan perkemahan, menjadi impian berjuta-juta umat Islam di seluruh dunia. Bahkan ada saudara-saudara kita yang menjadi korban paspor palsu, selain 177 orang yang sebagian sudah dievakuasi, tidak kurang dari 500-an jamaah yang sedang di tanah sucim pun, tampaknya tidak bisa menjalankan ibadah haji.

Alhamdulillah, pagi ini kita diijinkan berada di rumah Allah di Masjid Islamic center ini, menjalankan shalat Idul Adha 1437 H. Insya Allah, doa dan permohonan kita akan dikabulkan oleh Allah SWT. Siapapun kita, baik yang berlumuran atau bergelimang dosa, akan diterima taubatnya, karena Allah menjanjikan memersihkan dan mensucikan hamba-hamba-Nya, jika kita melakukan taubatan nashuha. Berhenti dari perbuatan dosa, menyesali, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Allahu Akbar x3
Sebagai hamba Allah, kita tidak mampu menghindari dosa dan kesalahan dalam prilaku kita sehari-hari. Marilah kita bermuhasabah dan mengenali siapa diri kita ini yang sebenarnya. Kita hanyalah seonggokan tulang berbalut daging yang terus menerus berusaha membungkus aib dan maksiyat pada masa-masa yang telah kita lewati. Sekedar membaca surat Al-Fatihah saja, rasanya kita belum fashih. Jangankan mengamalkan isinya. Mengerjakan shalat, hanya di sisa-sisa waktu, di tengah rutinitas kesibukan kita sehari-hari. Itupun sering tidak bisa khusyu’. Membaca al-Qur’an pun, menunggu hadirnya bulan Ramadhan. Itupun boleh jadi hanya di ujung lidah, dan tidak sanggup memahami makna dan pesan-pesannya dengan baik dan utuh. Berdzikir kepada Allah, lebih sebagai ritual dengan mempertontonkan betapa besar dan panjang untaian biji tasbih atau alunan suara tekanan tasbih. Sujud pun, rasanya dahi belum benar-benar menempel di tempat sujud.

Minggu, 05 Juni 2016

Marhaban ya Ramadhan

Ayah, mentari sya'ban melangkah ke peraduan
Rembulan ramadhan pun menyapa
Indah nian, menyejukkan

Ayah, aku lihat begitu bahagia nan gembira
Anak-anak, remaja pun orang dewasa
Menyambut tamu istimewa
Bulan penuh berkah, penuh pahala

Ayah, nanda haturkan permohonan maafku
Atas salah khilaf yang tak terhitung padamu
Kan terlantun doa ikhlas untukmu
Semoga Allah meridhai selalu

Ayah, mari kita sambut jua
Jangan biarkan ia berlalu begitu saja
Kulihat ajakan kebaikan menggema dimana saja
Yuk ngaji, yuk ke masjid dan tarawih jangan terlupa

Ayah, nanda sampaikan
Marhaban ya Ramadlan
Selamat menunaikan ibadah Ramadhan
Semoga Allah menerima setiap amalan
Derajat taqwa kan kita raih
Dan pertemuan kita di hari raya...
Aamiin ya rabbal alamin

Jumat, 03 Juni 2016

Izinkan aku perbaiki diri

Semilir angin senja terasa hangat
Melintasi hati yang kian membeku
Hatiku yang kian keras tak peka
Tiada mampu berujar atau berkata

Ayah, Ramadhan kan menyapa
Aku di antara rasa sedih dan bahagia
Aku tak bergerak dalam kebaikan sejak ramadhan lalu
Dan kini, ia kan hadir tak lama lagi

Sedih, Ayah...
Azzamku di bulan mulia itu tak berbuah
Aku berkutat pada kesenangan dunia
Tilawahku melayang
Tahajudku terpendam
Sedekahku entah kemana
Dan hatiku tak lembut sedikitpun

Sedih, Ayah... sangat sedih...
Aku takut Ramadhan kali ini hanya melintas
Dan aku tak berbuat sesuatu pun
Hanya lapar dahaga yang aku peroleh

Ayah, izinkan aku berbahagia menyambut ramadhan...
Karna masih ada engkau
Yang akan merekahkan semangat
Menghentakkan kegalauan
Nasihat dan kisahmu kan selalu menyejukkan

Ayah, izinkan aku memintamu
Menggandeng langkahku
Mendorong mesin hati dan akalku

Ayah, aku ingin perbaiki diri
Di ramadhan kali ini

Kamis, 19 Mei 2016

Pemimpin Yang Adil

*Hijjaz
Pemimpin yang adil sangat dikehendakiMemakmurkan umat dunia dan akhiratTiada keadilan negara huru-haraPemimpin membela nasib rakyatnya
Pemimpin yang adil sifatnya amanahMampu rasa resah susah rakyat-rakyatnyaKeadilannya tanpa pilih kasih pada siapaKepentingan rakyat lebih utama
Didengari rintihan dari rakyat-rakyatnyaKasih sayang terserlah di wajahnyaSombong dan takbur tidak ada pada dirinyaRakyat hormat bukan takut padanya
Pemimpin yang adil mengutamakan amanahWang rakyat dan negara tidak disalah gunaRasuah dan kemungkaran sangat dijauhinyaRakyat diseru mentaati Allah
Terdapat pemimpin di dunia kiniSeringkali mencetus huru-haraDemi melindungi kepentingan dirinyaRela membiar rakyatnya derita
Pemimpin yang adil mengutamakan rakyatnyaMelepaskan mereka dari sengsaraAkhlak yang mulia pakaian dirinyaRakyat taat dan sayang padanya
Tuhan, kurniakanlah pemimpin yang sejatiTuhan, kurniakanlah pemimpin yang begini
source: http://lirik.kapanlagi.com/artis/hijjaz/pemimpin_yang_adil

Selasa, 07 Juli 2015

Ia Hanya Sepertiga, kini

Ya Rabb, kembali ku meneteskan air mata
Tiada terbendung
Ia hanya sepertiga, kini
Tanpa kusadari

Ya Rabb, aku masih saja terbuai 
Lamunan dunia penggoda hati insan 
Aku lalai ya Rabb,
Terhadap ramadhanMu yang penuh berkah

Masihkah hamba Kau perkenankan 
Mengisi sepertiganya dengan amalan terhebat 
Hingga hamba laik kau sematkan predikat itu
Hingga hamba mampu kendalikan nafsu

Ya Rabb, Kau lah Maha Segalanya
ku hanya butiran debu tiada daya
Hanya kepadaMu hamba memohon 
Kabulkanlah doa dan pinta hamba

Persuakanlah hamba dengan malam seribu bulan 
Sampaikanlah hamba pada garis finish ramadhan 
Dan izinkanlah hamba tuk kembali bersua dengan RamadhanMu berikutnya 

Aamiin ya rabbal 'alamin... 😭😭😭

Kamis, 26 Juni 2014

menyambut Ramadhan (2)

Ramadhan, kaulah bulan penuh kemuliaan dan keberkahan...
saat mana al quran diturunkan...
saat peristiwa-peristiwa agung terjadi...
masa manusia memutihkan hati dan akal...

Ramadhan, sesungguhnya aku malu padamu
Kehadiranmu tiada aku siapkan penyambutan
Aku malah takut dan kian khawatir
Kau bersamaku tanpa makna
Tiada peningkatan kapasitas diri
Aku tiada daya tuk perbaiki diri...
Hingga akhirnya, kau berlalu pergi
Meninggalkan diri ini penuh kekecewaan...

Kini, kau kembali datang
Dengan membawa segudang harapan
Agar aku kian dekat dengan sang Pencipta
Kian mampu memahami kehendak-Nya
Agar diri ini menjadi ummat terbaik...

Ramadhan, kusambut engkau...
Marhaban ya syahrul quran...

aku mohon maaf atas salah khilaf selama ini... hanya engkaulah yang mampu mendampingi diri ini untuk memaknai ajaranNya...

menyambut Ramadhan


Pagi yang indah nan sejuk...
Syukurku terpanjatkan hanya padaMu
Ramadhan yang dinanti kini kan sgera bersua
Hanya riang dan gembira ku menyambutnya
Kerinduanku kan sgera terbalas...

Ya Rabb, doa ku haturkan
Dalam harap cemasku,
Ramadhan esok kan lebih berkualitas
Vision dan Action pendekatan diri hanya pada Mu
Dengan sepenuh passion dan collaboration
Ku sangat khawatir atas diri ini yang tiada daya...

Ya Rabb, Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui...
Pagi siang sore dan malam kupasrahkan diri hanya padaMu....


aku haturkan Selamat menyambut Ramadhan 1435 H...

Kamis, 18 Juli 2013

Belajar dari Para Pencari Tuhan

Ramadhan ini, Para Pencari Tuhan (PPT) memasuki episode yang ke tujuh, alias PPT 7. Sinetron religi yang tayang di SCTV tiap petang dan fajar itu telah menyapa penggemarnya selama enam tahun dan kini ada di angka 7. Tidak banyak sinetron yang hadir sampai dengan season ke  7. PPT hadir dan menghipnotis pecintanya untuk terus tak melewatkan alur ceritanya. Simple, tapi sebenarnya tidak. Mengandung nilai-nilai mendalam. Pilihan dialog yang berkelas dan berbobot. Dari setiap pemerannya. Demikian juga dengan guyonan khas nan segarnya. Dimana kalau dicermati, sungguh, kita akan mendapatkan hal yang luar biasa… Allah pun telah memerintahkan kepada hambaNya untuk memimikirkan sesuatu. Sepertinya, tak terkecuali sinetron sebagai buah dari karya seni.
Ada satu penggalan cerita dari sinetron Ramadhan yang diarsiteki oleh Deddy Mizwar, aktor kawakan yang flamboyan itu. Di Para Pencari Tuhan Jilid 3 (sekitar tahun 2009). Asrul dan Udin, memang bukan aktor utama. Tapi peran yang mereka jalankan menarik sekali untuk diungkap. Hingga kini, di jilid 7. Warga yang kepayahan dalam hidupnya, dalam mencukupi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Tapi mereka mempunyai keluhuran sikap dan persaudaraan. Di PPT 3 mereka berniat dengan kuat untuk menunaikan ibadah haji. Mission impossible. Mereka pun dengan segenap usaha dan pengorbanan serta kesabaran, terus dan terus mengejar asa. Apa yang mereka lakukan? Ibadah haji sangatlah membutuhkan keuangan yang besar. Untuk itulah, mereka menganggap bahwa menabung adalah jalan terbaik. Dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit, semoga akan jadi bukit. Hingga akhirnya, mereka mampu untuk mengunjungi ka’bah. Inilah yang lucu dan menggelitik. Mereka bukan membuka rekening tabungan yang tak mampu mereka lakukan.
Mereka tabungkan uangnya di dalam sebuah kotak yang dibentuk seperti ka’bah. Cara untuk meyakinkan dan memantapkan niatan. Sebagai pengaman, mereka tak menyimpan di dalam rumah mereka. Khawatir, kalau kan tersisih untuk makan sehari-hari.  Mereka “kubur” kotak “ka’bah” di dalam tanah. Di sebuah tempat yang dianggap aman. Perjuangan berat untuk mengisi kotak mereka. Uang yang disisihkan di antara untuk “makan” atau “haji”. Pilihan berat dan menyeka keringat. Niatan kuat menyelamatkan. Bersama-sama mereka masukkan tiap uang ke kotak impian itu dengan segera dan mantap. Takut, terkoreksi niatannya. Segera, mereka tutup kotak dan kubur. Hingga, sesuatu untuk sementara menggagalkannya. (di sini, ada cerita yang terpenggal. Karena pengamatanku terbatas pada waktu. Jam tayang yang tidak memungkinkan ku terus bersamanya. J).
Asrul dan udin, tetap menarik di PPT 7. Asrul yang berhasil berhaji dan kemudian menjadi orang kaya. Walaupun akhirnya menjadi orang miskin lagi. Namun, subhanallah, akhlaknya tetap sama. Yakin dan tabah atas kehendakNya. Sedangkan si Udin, kini diuji dengan menemukan uang puluhan juta. Uang yang sebenarnya milik pak Jalal yang dicuri orang. Sambungan cerita yang akan tetap dirindu.
Mira, istri Asrul juga punya peran yang luar biasa. Sebagai istri yang sholehah, mempunyai keyakinan kepada Allah dan begitu penyabar. Apapun yang terjadi pada keluarganya. Miskin, kaya, punya, tidak punya, aqidah tak tergadaikan. Allah Maha Penolong. Subhanallah. Loli??? Wah, peran yang membuat penonton gemes dan grrrr…. Pak Jalal? Bu Jalal? Atau pak RW? Peran-peran yang keren. Peran utamanya sebenarnya ada di pelawak Bajaj (Chelsea dkk), atau Aya, Kayla, Azzam, atau bang Jack ya. Ada pak Ustadz dan bu Ustadzah… and the others.
Belajar dari Para Pencari Tuhan. Belajar dari PPT, kenapa tidak? Mereka mengajarkan inovasi dan kreativitas. Sinetron religi yang hadir tiap ramadhan ini sungguh elegan dan sangat kontekstual. Memahami perkembangan dinamika sosial. Mengajarkan nilai-nilai agama dengan cara yang enak, nyaman, dan indah untuk dimengerti melalui realitas sosial dalam peran-peran dan alur ceritanya. Kekuatan persaudaraan antara Asrul dan Udin atau Chelsea dkk, mengajarkan betapa dinamis dan indahnya sebuah jalinan antar saudara, teman. Saling menasihati. Bercanda bersama. Sedih bersama. Pola kepemimpinan pak RW yang tidak layak untuk dicontoh. Pimpinan yang hanya mendahulukan kepentingan sendiri. Ketegasan pak Ustadz dan nasihatnya sungguh kita butuhkan untuk menghadapi permasalahan yang sedang dihadapi. Ahhh, masih banyak lagi. Tak kan bisa tergambar dalam tulisan ini.
Jika kita tarik ke kampus konservasi kita tercinta, semoga memberikan banyak hikmah dan pelajaran bagi dosen, karyawan, mahasiswa, pimpinan, atasan, bawahan, siapapun itu. Dengan peran masing-masing. Hingga, Unnes mampu menjadi kampus indah dan nyaman yang dinaungi berkah Allah swt. Yang bekerja, hanyalah untuk mencari berkah Allah. Yang belajar, juga hanya mengharap ridha Allah. Mereka saling bertaut hatinya. Bergandengan tangan untuk mencapai cita. Penuh optimisme dan kreasi futuristik. Walau berganti pimpinan, Unnes kan tetap membanggakan.
Terakhir, selamat menunaikan ibadah ramadhan 1434 H. Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Dan menjadikan kita sebagai golongan muttaqin. Amin ya rabbal ‘alamin.

Senin, 22 April 2013

Versi 4 ON dalam Doa


"Ya Allah, yang Maha Pemberi Petunjuk,
Kami sangat sadar, di hadapan kami terhampar luas lika liku perjalanan,
kami dalam ketakutan dan kecemasan,
akankah kami mampu mengikuti jalan yang telah Engkau ridhai,
dan bukan jalan yang Engkau murkai.
Ya Allah, hanyalah Engkau tempat kami mohon pertolongan.

Ya Allah, dengan vision, semoga langkah kami tegak dengan satu visi;
menjadi hambaMu yang beriman dan bertakwa;
dengan action, kami mampu menginternalisasi dan mengaktualisasi visi dan resolusi,
dengan passion, semoga optimisme dan keyakinan atas pertolonganMu
kian memperkuat derap langkah kami tuk gores satu catatan sejarah kebanggaan;
dan dengan collaboration, sungguh indah kami mampu berbakti dan berkarya bersama-sama
serta berbagi dan peduli,
hingga kami yakin, esok kami kan membuat tersenyum bangga;
orang tua kami, guru dan dosen kami, serta bangsa dan Negara kami."

Tulisan di atas merupakan petikan doa dalam upacara kelulusan sarjana dan ahli madia FE Unnes periode I tahun 2013. Petikan doa yang menterjemahkan 4 ON ala @JamilAzzaini, seorang trainer dan inspirator SuksesMulia di Indonesia. :)

Senin, 30 April 2012

Naskah Doa Upacara Kelulusan Sarjana Dan Ahli Madia Periode I Tahun 2012 FE Unnes


Alhamdulillahirabbil’alamin,
Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa’ala ali sayyidina muhammad
Hamdan syakirin, hamdan naa’imin, hamdan yuafi ni’amahu wa  yukafi mazidah
Rabbana lakal hamdu kama yambahi lijalalika wajhimi wa’adhimi sulthanik

Ya Allah Yang Maha Rohman dan Rohim,
Sungguh, betapa gembira hati kami hari ini, air mata bahagia menetes derasnya membanggakan,
Atas kasih sayang Mu,
kami mampu berdiri tegap menatap masa depan yang semoga kian cerah;
menoreh catatan kebanggaan dalam satu episode sejarah perjalanan hidup kami,
Upacara Kelulusan Sarjana dan Ahli Madia Periode I Tahun 2012 Fakultas Ekonomi Unnes
Ya Allah, syukur kami panjatkan hanya teruntukMu... 
Atas limpahan rahmat dan ni’mat Mu yang tiada terkira

Ya Allah, pun kami ingin ungkapkan rasa terima kasih yang amat mendalam kepada insan yang penuh kasihInsan yang senantiasa menyebut kami dalam setiap doa malamnyaInsan yang tiada terhitung pengorbanannya hanya untuk kesuksesan kamiInsan yang tak mengenal keluh kesah dalam setiap langkahnya, membuat senyum kami terus dan terus mengembang nan indahYa Allah, muliakanlah mereka... bapak ibu kami yang sangat kami cintai dan sayangiKami dalam pengharapan dan kecemasan ya Allah, akankah kami mampu membalasnya...

Minggu, 05 Februari 2012

Beruswah Kepada Nabi Muhammad

dakwatuna.com – Sahabatku, kita punya cara untuk mengenang orang paling mulia di dunia, Nabi Muhammad saw.. Catatan ringkas ini semoga menjadi renungan buat kita. Berteladan kepada Nabi saw. Dia sejatinya uswah, pasti tidak akan membuat kita kecewa!
1) Kalau ada pakaian yang koyak, Nabi saw menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
2) Setiap kali pulang ke rumah, bila belum tersaji makanan karena masih dimasak, sambil tersenyum beliau menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Aisyah menceritakan bahwa kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.
3) Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudahnya.
4) Pernah beliau pulang menjelang pagi hari. Tentulah beliau teramat lapar waktu itu. Namun dilihatnya tiada apa pun yang tersedia untuk sarapan. Bahkan bahan mentah pun tidak ada karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?’  Aisyah menjawab dengan agak serba salah, ‘Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.’ Rasulullah lantas berkata, ‘Jika begitu aku puasa saja hari ini.’ tanpa sedikit tergambar rasa kesal di raut wajah beliau.

Jumat, 07 Januari 2011

Salah Kiblat

Sebagai insan yang ingin tetap dekat denganNya, walaupun dimanapun berada, kami tentu tak boleh melewatkan shalat sedikitpun. Berusaha untuk tepat waktu. Kala itu, waktu telah memasuki dhuhur. Setelah makan siang, kami bergegas untuk segera menunaikan rukun Islam kedua itu. Maklum di Bali, agak susah mencari tempat shalat yang representative. Ruang kecil itu pun menjadi saksi. Biasanya di setiap ruang yang dipakai untuk shalat ada penunjuk kiblatnya, termasuk di kamar hotel sekalipun. Di ruang kecil itu ternyata ada dua petunjuk kiblat. Dan berbeda! Ya sudahlah, ambil salah satunya. Kayaknya lebih masuk akal.


Shalat pun ditunaikan. Dan kloter berikutnya juga mengikuti. Namun kali ini berbeda. Kloter terakhir melakukan dua shalat dengan dua kiblat. Shalat dhuhur dengan kea rah satu, shalat ashar ke arah lainnya (shalatnya di jamak qashar euy). Dan di ruang makan, kejadian itu terceritakan. He..he.. kok beda ya kiblatnya. Kloter kedua bias berubah arah kiblatnya karena diberitahu orang yang biasa shalat di situ. He..he.. berarti kloter pertama salah ya kiblatnya…

“Sepertinya nanti harus saya ganti shalatnya.”, ucap salah seorang. “Ah nggak apa-apa. Namanya juga nggak tahu. Kesalahan karena tak tahu kan diampuni”, dalih yang lain… Aduh… kok jadi begini ya… Setahu saya kok nggak ada qadha shalat ya… Saya lebih suka jawaban kedua. Dan update status di fb pun saya tulis demikian.

Penasaran dengan jawaban di atas, membuat ku tergelitik untuk bertanya pada “yang berwajib”. Lewat sms juga nggak apa-apa. Insya Allah jelas. Jaman teknologi.. he…he… maka ku tanyakan kasus di atas. Dan mendapatkan jawaban seperti ini.

Sy pernah dengar dr pengajian, tdk ada qadha shalat. Semoga Alloh mengampuni keteledoran orang yg tdk mau Tanya , atau krn tdk ada yg ditanya, sampai arah kiblat tdk tahu. Dr buku yg pernah sy baca, arah kiblat tdk harus persis ke ka’bah. Antara utara & selatan adl kiblat. HR Tirmidzi. (010110.09:17:39)

Shalat Ied di Hari Jumat


Hari raya idul Adha tahun ini jatuh pada hari Jumat. Betul… berarti akan ada shalat ied dan shalat jumat pada hari yang sama. Tak biasa kan? Terus motong hewan kurbannya bagaimana? Apa ditunda, atau diapain? Kita mungkin pernah dengar juga lebih baik motong hewan qurbannya didahulukan. Kan ada rukhsoh untuk tidak shalat jumat, ketika paginya sudah menunaikan shalat ied.

Kejadian tersebut di atas kutanyakan. Dan mendapatkan jawaban sms berikut ini.

Betul ustadz. Dr pengajian yg sy ikuti 2 hr lalu, ada dalil shohih yg mewajibkan sholat jumat bagi yg tdk ikut shalat ied, tapi sholat jumat mjd sunah bagi yg sdh ikut sholat ied. Hari ini ta’mir masjid kami tdk mengadakan shalat jumat, mengurus hewan qurban. (271109.15:50:07)

Guna menambah pemahaman kuberikan pernyataan lanjutan. Dalam beribadah, seandainya kita mendapatkan kedua-duanya, bukankah lebih baik? Artinya shalat jumat jalan, dan penyembelihan hewan qurban juga jalan. Bukankah ada 3 hari untuk itu? Bukankah setiap rukhsoh terdapat peristiwa yang mendasarinya, artinya Allah tidak memberikan tiba-tiba. Tanggapannya berikut ini.

Dalam beribadah, akal berada di bawah dalil. Di tempat kami ada alasan yg kuat utk memanfaatkan rukhsoh tsb. Ada sebagian orang berpendapat, diberi rukhsoh koq tdk mau, padahal butuh, sombong itu namanya. (271109.16:07:38)

Dari kajian sebanyak 9,5 halaman yg sy punya tulisan M. Shidiq Al Jawi, setelah mengkaji dalil beserta latar belakangnya, muncullah hukum tadi, tanpa sya rat tambahan lagi. (271109.16:20:59)

Mendoakan Orang Meninggal dan Nadzar

Berikut ini jawaban atas pertanyaan ku tentang bagaimana hokum mendoakan orang yang sudah meninggal dan non muslim. Misalkan mendoakan nenek kita yang sudah meninggal padahal beliau bukan muslim, atau mendoakan pahlawan bangsa yang tidak semuanya muslim.

Mendoakan orang muslim yg meninggal jelas dianjurkan. Mendoakan orang kafir (nonmuslim) yg sdh meninggal, dilarang (QS AT TAUBAH :113). (091109.18:23:12)
Jelasnya dalil, menjadi kemudi ketika perahu kita terbawa arus. (091109.20:13:40)

Kalau bernadzar ngajak makan2 orang lain karena terpenuhinya suatu doa, boleh nggak ya?

Kalau sdh nadzar, wajib ditepati (QS 76:7) dan hadits “Barangsiapa bernadzar berupa ketaatan kepada Alloh, hendaklah dipenuhi” (HR Bukhori), kalau belum bernadzar, sebaiknya dihindari “Sesungguhnya nadzar tdk datang membawa kebaikan dan hanya keluar dr orang bakhil” (HR Muslim). (081109.20:21:24)

Kamis, 12 Februari 2009

Masalah Sebenarnya

Beberapa waktu lalu, sungguh telah di hadapan pandangan, fenomena yang jua mengiris hati. Seorang perempuan “nekad” naik mall yang tinggi dan memutuskan untuk terjun. Apa tujuannya? Bukan tak lain; Bunuh Diri!!! Kenapa? Tidak mampu menghadapi masalah besar “utang”.

Cerita lain, ketika ditanya seseorang tentang masalah apa yang paling besar dihadapi, sebagian dari kita akan menjawab, masalah akan timbul ketika kita tidak mempunyai uang, sehingga tidak akan bisa makan dan menyambung hidup di hari esok. Sebagian lain menjawab, masalahnya ketika kita tidak bekerja. Kita tidak akan dapat uang dan akhirnya tidak bisa makan. Hampir sama jawabannya. Ataukah ada jawaban lain? Atau mungkin akan menjawab, ketika kita tidak bisa meraih apa yang sudah kita rencanakan, entah terkait dengan pekerjaan atau hubungan dengan orang lain.

Benarkah masalah di atas adalah masalah besar kita sesungguhnya? Sehingga ketika kita berhadapan dengan masalah itu, tak cukup luas otak kita untuk berpikir. Hingga solusi yang diambil kerap tidak rasional. Bunuh diri, anarkhis pada orang lain, mencuri dan lain sebagainya. Atau malah dengan solusi putus asa. Diam sejuta bahasa. Mutung, tidak mau mengerjakan apa-apa.

Masalah memang selalu kan kita hadapi. Masalah kecil, besar yang bisa jadi karena ulah kita atau disebabkan oleh orang lain baik sengaja ataupun tidak. Namun, menurut salah seorang Ustadz (yang aku lupa namanya), bahwa masalah sebenarnya kita adalah “Masalah kita adalah ketika kita tidak bisa masuk syurga”… ehm… woow… terbesitkah kalimat itu di hati kecil kita?

Tidak punya uang, tidak bisa makan, tidak punya pekerjaan, bukanlah masalah sebenarnya, kata ustadz itu. Kita akan menghadapi masalah besar ketika kita tidak bisa masuk syurga. Artinya kita akan masuk neraka. Hal ini kerap tidak terlintas dalam benak kita. Karena memang ukuran yang sering kita jadikan adalah materi. Bukannya menuduh, memang kita sangat menyukai dunia materialitas. Dan masyarakat kita sungguhlah demikian. Mereka mengukur sesuatu hanyalah pada ukuran materi, yang terlihat dengan mata. Bukan ukuran lain yang lebih hakiki.

Bagaimana supaya kita tak menghadapi masalah sebenarnya tadi? Artinya bagaimana kita bisa masuk syurga. Bukan pekerjaan gampang memang. Allah tidak akan seenaknya memberikan hadiah “syurga” keapda makhlukNya yang tidak punya prestasi apa-apa di dunia ini. Syurga bukan diberikan bagi orang kaya. Bukan! Syurga juga bukan diberikan kepada orang miskin! Tetapi syurga diberikan kepada mereka yang sanggup menyerahkan diri dengan sebenar-benar penyerahan. Bukan orang kaya yang tidak punya jiwa sosial dan tidak tahu bersyukur. Bukan orang miskin yang hanya pandai mengeluh.

Sungguh, kita bisa menuju ke arah sana. Berkumpul orang shalih jua akan berefek positif. Artinya kita akan mendapatkan pancaran kebenaran dari orang shalih. Cara lain, tentu kita harus senantiasa memperbaiki keimanan dan ketakwaan. Dan upaya-upaya lainnya yang diridhai. Wallahu a’lam.

Sabtu, 06 September 2008

Silaturahim (bagian akhir)

Tulisan pertama telah menceritakan kita bagaimana keindahan dari silaturahim. Silaturahim disini akan dipersempit menjadi etika bertamu, bagaimana kita menghadiri undangan dan bagaimana kita berada di ruang tamu saudara kita. Dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Fadhli Bahri dengan judul Ensiklopedi Muslim, ustadz Abu Bakr Jabir al Jazairi mengemukakan etika bertamu sebagai berikut;
 Hak-hak Ukhuwah
• Membantu dengan dana.
• Masing-masing dari dua orang yang bersaudara harus membantu saduaranya dalam memnuhi kebutuhannya, mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri, memeriksa kondisi saudaranya sebagaimana ia memeriksa kondisi dirinya.
• Menjaga lisan dengan tidak membeberkan aib saudaranya baik sepengetahuan maupun tanpa sepengetahuan, tidak membongkar seluruh rahasianya, dan tidak berusaha mengetahui rahasia-rahasia diri saudaranya.
• Memberi sesuatu yang dicintai saudaranya dari lisannya dengan memanggilnya dengan nama yang paling disukai, menyebutkan kebaikannya tanpa sepengetahuannya atau di depannya.
• Memaafkan kesalahannya, tidak mengambil pusing dengan kekeliruannya, menutup aibnya.
• Memenuhi hak ukhuwah dengan menguatkannya dan mempertahankan perjanjiannya, karena memutus ukhuwah itu membatalkan ukhuwah.
• Tidak menyuruh saudaranya dengan sesuatu yang tidak mampu ia kerjakan dan tidak ia senangi.
• Mendoakan saudaranya, anak-anaknya, dan apa saja yang terkait dengannya sebagaimana ia senang mendoakan dirinya, anak kandungnya dan apa saja yang terkait dengannya.
 Etika Mengundang Orang untuk Bertamu
• Mengundang orang-orang bertakwa bukannya orang fasik, dan bukan pula orang-orang berdosa.
• Tidak hanya mengundang orang-orang kaya saja tanpa melibatkan orang-orang miskin.
• Dalam mengundang tamu, orang muslim tidak bermaksud sombong namun bermaksud mengamalkan sunnah Rasulullah SAW dan “Bapak Tamu”, Nabi Ibrahim AS serta nabi-nabi lainnya.
• Tidak boleh mengundang orang-orang yang mengalami kesulitan untuk bisa memenuhi undangannya, atau orang tersebut mengganggu sebagaian undangan.
• Ia mengambil makanan yang jatuh ketika ia makan.
• Membersihkan sisa-sisa makanan di gigi-giginya dan berkumur untuk membersihkan mulutnya.
• Memuji Allah setelah makan dan minum.
 Etika Memenuhi Undangan
• Tamu yang diundang harus memenuhi undangan dan tidak terlambat memenuhinya kecuali karena udzur.
• Tidak membeda-bedakan antara undangan orang miskin dan undangan orang kaya.
• Tidak membedakan undangan jauh dengan undangan dekat, mendahulukan undangan pertama yang diterima.
• Tidak boleh absen menghadiri undangan karena ia berpuasa. Jika tuan rumah senang jika ia makan, maka ia membatalkan puasanya atau menolaknya dengan baik.
• Dengan memenuhi undangan, seorang muslim harus berniat memuliakan saudaranya agar ia diberi pahala karenanya.
 Etika Menghadiri Undangan
• Tidak berlama-lama di rumah pengundang, karena hal ini membuat mereka kalut, dan tidak buru-buru datang ke rumah pengundang sebelum mereka mengadakan persiapan untuknya, sebab hal tersebut mengganggu pengundang.
• Tawadlu’ dalam rumah pengundang, tidak boleh menonjolkan dirinya di pertemuan.
• Pengundang harus bersegera menyajikan hidangan.
• Tuan rumah tidak boleh memberesi makanan sebelum tangan tamu diangkat darinya dan sebelum semua tamu selesai makan.
• Tuan rumah harus menghidangkan makanan secukupnya.
• Jika tamu singgah di rumah seseorang, ia tidak boleh berada di rumahnya lebih dari tiga hari, kecuali jika tuan rumah memintanya.
• Tuan rumah mengajak tamuny jalan-jalan ke luar rumah.
• Jika tamu pergi dari rumah yang disinggahinya, ia harus keluar dengan lapang dada, kendati misalnya dapat perlakuan buruk.
• Hendaklah seorang muslim mempunyai tiga kamar tidur, satu untuk dirinya sendiri, satu untuk keluarganya, dan satu lagi untuk tamu.

Demikian, islam melalui al Quran dan al Hadits mengatur tentang interaksi antar ummatnya. Ukhuwah islamiyah adalah landasan bagi muslim dalam berhubungan dengan muslim lainnya. Mereka adalah bersaudara. Wallahu a’lam bish showab

Jumat, 05 September 2008

sensasi ramadhan

ramadhan, memang bulan yang sungguh luar biasa. bagi ummat islam dan makhluk seluruh alam….

bagaimana tidak? di bulan inilah, ummat islam berlomba-lomba menampakkan aura kebaikannya, dengan kentara…

di bulan inilah, tingkat religiusitas ummat islam begitu menanjak drastis. bisa kita lihat, kebiasaan di bulan suci penuh berkah nan ampunan ini. jamaah shalat di masjid, begitu bertambah shafnya. walau akhirnya juga surut di jelang akhir ramadhan. tangan begitu mudahnya untuk berada di atas. memberi yang bermanfaat bagi yang lain. baik berupa uang atau makanan berbuka puasa atau yang lainnya.

di bulan ramadhan ini juga, semuanya mengalami perubhan signifikan ke arah lebih baik. begitulah,…. karena memang ini lah yang diinginkan oleh Allah swt. supaya menjadi orang yang bertakwa. gelar yang akan disandang ketika ummat lulus menghadapi segala bentuk ujian di bulan ramadhan.

bagaimana sensasi ramadhan lainnya? tentu anda sudah mengetahuinya. bukan begitu?

walaupun demikian, tentunya ada yang membuat kita harus berpikir ulang…. kenapa hanya terjadi di bulan ramadhan saja. setelah ramadhan meninggalkan kita, seakan-akan kita kembali seperti orang biasa. religiusitas di bulan suci tak berbekas sama sekali. sya yakin sih, semoga saja hanya sebagian saja. tentunya, yang lainnya mengalami keajegan keimanan…. termasuk kita… amin.

semoga Allah swt menerima segala amalan yang kita lakukan di bulan ramadhan kali ini… amin ya rabbal ‘alamin.

Senin, 01 September 2008

ramadhan lagi…?

kini, bentar lagi…
kita kan berjumpa dengan bulan Ramadhan
ummat islam dimanapun berada
mempersiapkan diri untk menyambutnya

ramadhan lagi…
kita diberi kesempatan lagi
untuk memperbaiki diri
menuju pertobatan hakiki
menjadi hambaNya yang baik

ramadhan lagi…
kita diberi kesempatan lagi
untuk terus ikhlas beramal
berlipat pahala kan didapat

ramadhan lagi…
bagaimana denganku?
tentu…
aku sangat bahagia...

Rabu, 20 Agustus 2008

Silaturahim (bagian 1)

Peduli tetangga adalah ciri muslim sejati. Begitulah kira-kira yang tertulis pada sebuah panduk yang terlentang melintasi atas jalan yang baru saja aku lewati. Pesan yang cukup dalam namun terkadang “sedikit terlupakan”. Karena kita terlalu asyik memikirkan diri kita sendiri. “Wong kita aja banyak masalah, ngapain mikirin orang”. Mungkin itu yang ada dalam pikiran kita. Sehingga, tetangga yang begitu dekat dengan rumah kita seakan-akan orang yang tidak pernah kita kenal. Mereka adalah orang asing. Nanti kalau kenal, malah kita bisa repot. Dimintai bantuan lah, dimintai apalah, atau yang lainnya. Pokoknya bisa membuat repot.
Kembali ke awal tulisan ini, “peduli tetangga”. Saat ini, masih bulan ramadhan. Dan ternyata bahwa bulan ramadhan juga disebut sebagai syahrul ukhuwah atau bulan persaudaraan. Disamping sebutan lainnya yang sudah sangat kita kenal (atau malah telah kita fahami) seperti syahrul qur’an atau syahrul jihad. Allah swt memang Maha Pencipta. Dia berikan bulan ramadhan kepada ummat sebagai peringatan dan pembelajaran. Ya, tentang “peduli tetangga”. Sebagai salah satu wujud ukhuwah.
Tentunya, kita sebagai muslim yang baik hati dan tidak sombong, haruslah memanfaatkan momentum berharga ini. Tuk aktualisasikan diri bahwa kita adalah muslim yang mempunyai sikap ukhuwah yang tergolong tinggi. Bukan begitu? Paling tidak, kita lebih bisa memberikan perhatian kepada tetangga dekat kita, yang setiap hari bersua dan bersosialisasi. Salah satunya adalah dengan silaturahim. Silaturahim ini tentunya turunannya akan banyak sekali. Tidak sekedar datang ke rumah atau sekedar menyapa. Jikalau bisa lebih dari itu, kenapa tidak kita lakukan?
Silaturahim adalah kata yang indah. Dan di dalam Al quran juga banyak disebut. Silaturahim tidak hanya kita lakukan pada saat lebaran saja. Tidak hanya kita lakukan saat tetangga atau saudara kita sedang sakit atau sedang mempunyai “gawe”. Silaturahim tidak hanya dilakukan kepada mereka yang kita kenal. Siapapun akan senang jika kita bisa silaturahimi. Saya yakin itu. Tentunya dengan cara dan maksud yang baik.

Silaturahim dalam Al Quran dan al Hadits
Al quran sebagai dasar utama ummat Islam dalam bertindak tentunya mengatur tentang bagaimana seorang muslim berinteraksi dengan muslim lainnya. Demikian dengan al Hadits (as Sunnah). Interaksi antar muslim adalah berdasar rasa ukhuwah (persaudaraan). Ukhuwah ini terlahir harus karena cinta kepada Allah dan RasulNya. Orang muslim karena imannya tidak mencintai ketika ia harus mencintai melainkan karena Allah Ta’ala, dan tidak membenci ketika ia harus membenci melainkan karena Allah Ta’ala dan RasulNya, karena ia tidak mencintai kecuali apa yang dicintai Allah Ta’ala dan RasulNya, dan ia tidak membenci kecuali apa yang dibenci Allah Ta’ala dan RasulNya.
Ayat yang menjelaskan ukhuwah adalah dijelaskan pada Quran Surat Al Hujurat ayat ke 13, yang artinya; sesungguhnya sesama muslim adalah bersaudara. Begitulah Al Quran mengatur interaksi antar muslim. Dimana, setiap muslim dengan muslim lainnya adalah bersaudara. Sehingga, hubungan tersebut kian mendekatkan antar muslim, tanpa dibatasi letak, ruang dan waktu. Muslim Palestina adalah saudara muslim dunia lainnya. Begitu juga, muslim Indonesia adalah saudara muslim dunia lainnya. Mereka selaiknya saling tolong dan membantu. Ayat lainnya adalah “sesama muslim adalah laiknya sebuah bangunan, saling menguatkan antar elemen.” (Ash Shaaf:2-3)
Sementara dalam al Hadits, banyak diterangkan perihal ukhuwah, silaturahim. Salah satu diantaranya adalah “Sesungguhnya Allah berfirman; kecintaanKu berhak dimiliki orang-orang yang saling berkunjung karenaKu. KecintaanKu berhak dimiliki orang-orang yang saling menonolong karenaKu (HR. Ahmad dan Al Hakim). Hadits lainnya berbunyi; “Orang muslim tidak halal mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu, salah satunya berpaling dan orang satunya juga berpaling. Orang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam” (HR Muttafaq Alaih).

Begitulah indahnya silaturahim. Sungguh akan begitu damai nan indah lingkungan kita, jikalau dilandasi dengan ukhuwah. Di antara kita, bisa saling silaturahim untuk kiat memperat hubungan dan mengakrabkan diri. Di bulan puasa ini, kita bisa saling tukar makanan ta’jil, bisa berbagi kolak pisang, bisa membagi kue, atau makanan besar dan lain sebagainya. Sungguh bermakna ramadhan kita, jikalau kita bisa menghiasinya dengan amalan-amalan yang diridhaiNya. Jadilah kita, muslim yang sangat peduli dengan tetangga. Tentunya tidak melupakan saudara. Wallahu a’lam bish showab.