Bercerita, ngobrol, dengan kedekatan hati dan perasaan. Itulah yang aku rasakan ketika membersamai #pakfari. Dan inilah yang akan selalu aku rindukan. Aku telah mengenal banyak “bapak”. Dan #pakfari ini berbeda. Aku “punya” #pakudin dengan gaya khasnya. Aku punya #sanggurutimur dan #sanggurubarat untuk mengobrol dan bercerita serta bercanda. Atau aku juga punya #sanggurutimurjauh atau #sanggurutengah. Tapi #pakfari punya kekhususan dalam hal ini. Semuanya baik, tapi aku bisa merasakan hal yang beda. #pakfari asli kalimantan, mungkin ini yang sangat membedakan. Pokoknya aku suka. Aku suka. Sekali lagi, kerinduanku “komunikasi” antara bapak dan anak, itulah yang mendorongku. Bukan yang lain. Semoga aku bisa mempraktikannya dengan bapak ibuku, di sana, di kendaldoyong. Aku tak bisa melakukannya; menceritakan apapun, menanyakan sesuatu pada beliau. Aku tak bisa.. sedih.... sedih...
Perjalanan silaturahim yang
kedua, demikianlah aku menyebutnya. Sebenarnya bukan yang kedua, melainkan yang
ketiga. Kenapa kedua? Silaturahim yang pake “maksa” untuk diperbolehkan
menginap. Perjalanan silaturahim ini ke #pakfari #sangguruselatan.
Perjalan ini telah aku rencanakan
beberapa hari sebelumnya dengan “memaksa” untuk diperbolehkan menginap lagi.
Aku tak tahu, sebenarnya tanggal 13 April aku telah bersua dengan #pakfari di
pudakpayung. Aku ingin merasakan “aura” istananya lagi. Atau ingin makan
gratisan??? Hehe... entahlah, kali ini aku ingin membersamainya. Semampuku...
(red. Seseringnya... hehe).
Semnas FE UNY adalah “batu
loncatan” untuk bisa ke yogya lagi. Kali iini aku punya istilah baru, “new
york” alias new yogkarto. Lucu juga ya. Dan akhirnya aku bisa bersama pak KDY,
pak JK, dan mbak tyas dalam kegiatan semnas ini, yang telah dipromosikan sama
prof. Kirno dari UNY di grup WA Aprodiksi. Karena ke yogya, ya harus ke
sardohoharjo ngaglik, dekat Merapi View. Ya, ke #pakfari.
Berangkatnya aku ikut mobilnya
pak KDY. Setelah satu jam menunggu, akhirnya kami berangkat juga dari GSG
Unnes. Pak KDY kelupaan membawa oleh-oleh untuk prof. Slamet UNY. Akhirnya
menunggu cukup lama, putranya menyusulkan oleh-oleh itu. Kami berhenti di
jembatan muntilan untuk sarapan pagi, tepatnya di warung makan Purnama, spesial
pecel wader. Padahal aku sudah lapar dari tadi. Tahan, tahan, dan tahan. Dan
menu “wader” akhirnya terlahap walau tak habis. Biasa, kalau makan mesti gitu..
maaf ya, aku kan makan secukupnya. Perjalanan pun berlanjut. Waktu telah menunjukkan
08.43. kami harus bergegas, karena pak JK telah memberikan kabar Seminar telah
dimulai.
Sekira jam 10 kami akhirnya
sampai FE UNY dan kami pun mengikuti seminar dengan baik. Dengan baik ya, lebih
banyak mendengarkan daripada ngobrol. Selepas makan siang dan shalat dhuhur,
aku dan pak JK berbagi tugas. Karena ke UNY banyak misi. Pak JK juga mau beli
jurnal terakreditasi. Aku bantu menyampaikan oleh-oleh ke prof. Slamet. Dan pak
KDY plus mbak Tyas yang mengikuti sesi paparan makalah. Aku dan pak JK pun
bergegas melaksanakan tugas. Hmmm... mencari alamat prof. Slamet ternyata
sulit. Muter-muter dulu baru ketemu. Padahal dekat sekali dengan FE UNY, malah
kita jauh kesana, mengikuti petunjuk mbak google maps. Lega sudah. Dan aku pun
kembali ke kampus untuk mengikuti kegiatan. Sampai kampus, ternyata pak KDY
sudah selesai dan sedang mengurusi sertifikat. Karena aku sudah memberikan
kabar kalau mau mampir di ngaglik, akhirnya pak KDY pulang ke Semarang lebih
dulu dengan pak Gijana. Maafkan aku ya pak...
Sakit gigi... ya, aku merasakan
sakit yang wow di hari itu. 23 April 2016. Saat berangkat, sakit gigi itu
sebenarnya telah berasa. Tetapi aku tak menyangka rasa sakitnya luar biasa di
siang hari. Karena tak kuat menahan rasa, saat seminar aku minta obat herbal
yang kemarin tak kasihkan pak JK. Dan masih belum mempan. Puncaknya saat makan
siang selepas dari prof. Slamet, di warung itu, rasa sakitnya luar biasa....
saaaakkiittttt.... sampai aku tak konsen
ketika diajak ngobrol sama pak Gijana.
